BBM Langka di Labuhanbatu Sumut, Aktivis Nilai Pemerintah “Gatot”

banner 120x600

Katapublik Labuhanbatu, Kelangkaan BBM yang mengacaukan aktivitas Masyarakat Labuhanbatu seolah dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. SPBU kosong, antrean mengular, dan rakyat terpaksa membeli BBM eceran dengan harga mencekik.

Dampak ini, menjadi citra buruk buat Pemerintah dan dianggap gagal total (Gatot), menangani persoalan ketersediaan bahan bakar di pangkalan pengisian BBM di SPBU.

Sejumlah SPBU di Labuhanbatu terlihat tutup lebih awal dari jam operasional biasanya. Tampak ada SPBU yang buka hanya 1–2 jam karena pasokan datang terlambat atau tidak datang sama sekali.

Antrean mengular hingga Ratusan Meter, Pengendara harus menunggu 2 hingga 4 jam untuk mendapatkan BBM. Motor dan mobil berdesakan hingga menutupi badan jalan dan menyebabkan kemacetan.

Harga Eceran Pertalite Tetap BBM Bersubsidi di angka Rp 10 Ribu/Liter. Sementara harga ecer di Panai Hilir mencapai Angka Rp 20 Ribu/Liternya.

Kelangkaan ini bermula sejak terjadinya Bencana Alam Sumatera pada 25 November 2025 kemarin, sampai dengan sekarang.

Selaku Ketua GPM Labuhanbatu Adam Hasibuan mengatakan, bagaimana mungkin BBM bisa hilang dari SPBU berhari-hari, kalau kita lihat dampak dari bencana alam Sumatera seharus nya justru tidak berimbas ke Labuhanbatu. Sebab, masuknya BBM sumatera Utara (Sumut), terkhusus Labuhanbatu, melalui Pelabuhan IT Dumai jalur sumatera lintas timur, sementara bencana alam yang terdampak hanya jalur sumatera lintas barat .

“Ini bukan hal biasa, Pemerintah harus jelaskan, siapa yang bermain di belakang ini”, pinta Adam.

Aktivitas sehari-hari jadi terganggu. Mau berangkat kerja saja susah karena SPBU banyak yang tutup. Harga BBM di pengecer melonjak. Masyarakat terpaksa beli meski mahal

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, bahwa tugas pemerintah adalah menjamin bahan bakar minyak (BBM) stok BBM kita cukup dan menolak bahwa secara nasional ada kelangkaan.

Kelangkaan BBM di Sumut bukan sekadar gangguan distribusi ini adalah cermin ketidakberesan tata kelola energi. Ketika warga berdesakan demi beberapa liter bensin, para pengambil kebijakan sibuk meyakinkan publik bahwa semuanya baik-baik saja.

Situasi ini hanya menegaskan satu hal, ada jarak yang terlalu jauh antara gedung kekuasaan dan kenyataan di lapangan. Jika pemerintah tidak segera menuntaskan akar masalahnya, maka kelangkaan hari ini bisa menjadi pemicu awal mulanya kembali tragedi 25 Agustus yang lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *